Rabu, 29 Oktober 2008

BERSAHABAT DENGAN ALAM (alternative untuk mengatasi kelangkaan BBM)

BERSAHABAT DENGAN ALAM
(alternative untuk mengatasi kelangkaan BBM)

Bahan Bakar Minyak (BBM) sepertinya selalu menjadi persoalan bagi bangsa kita. Dulu kita dihadapkan pada kebijakan pemerintah tentang kenaikan BBM akibat kenaikan di pasar dunia. Tak lama setelah itu, kita kembali lagi tersandung persoalan langkanya BBM. Dalam hukum pasar ada kaidah bahwa Apabila jumlah barang sedikit, maka harga akan naik”. Ya, ujung-ujungnya BBM sulit didapat, jika kita mendapatinya, itupun harus dibayar dengan sejumlah rupiah yang bertikal-tikal jumlahnya.
Padahal, kalau kita bisa melihat lebih jernih, negara Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk minyak. Tentu sangat naïf jika negar sekaya ini menjadi negara yang kekurangan dalam persoalan pemenuhan minyak. Kondisi ini, tentunya membuat masyarakat, terutama kaum menengah ke bawah harus pintar mencari solusi alternatif.
Pada dasarnya, niatan baik pemerintah yang menganjurkan untuk membatasi pemakaian BBM, bisa direspon secara positif. Artinya, pemerintah berusaha untuk mengajarkan kepada warganya untuk senantiasa hidup berhemat. Tetapi, meski hal tersebut merupakan satu ide yang bisa diterima, sebenarnya itu tidak lebih dari sekedar antitesa terhadap fenomena yang ada.
Pemerintah selalu menganjurkan hidup hemat, saat sumber daya alam sudah mulai menipis. Tetapi, pada hidup keseharian, sebelum sumber daya alam terkikis, tidak ada anjuran untuk lebih berhemat. Artinya, anjuran untuk hidup hemat selalu dilakukan saat kita berada pada kondisi kritis.
Hal inilah yang seringkali menyebabkan anjuran pemerintah seringkali tidak efektif. Hidup hemat karenanya bukan satu pola hidup yang secara natural dilakukan oleh masyarakat. Tetapi lebih sebagai penangkal terhadap fenomena yang membuat masyarakat berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Terlepas dari himbauan apapun dari pemerintah, yang jelas rakyat harus pintar memberdayakan alam. Perlu dipahami, bahwa minyak bukan satu-satunya energi yang bisa kita optimalkan dalam kehidupan. Sebagai bahan bakar masyarakat sepertinya harus kembali ke alam dengan memanfaatkan potensi yang ada. Ini menunjukan bahwa kita tetaplah bergantung kepada alam.
Dalam situasi seperti ini, maka hubungan yang harmonis antara manusia dan alam harus terus dibangun. Kekurangan sumber daya alam yang terjadi saat ini, dalam pandangan penulis, disebabkan kurangnya terjalin sikap harmoni antara manusi dan alam. Alam seringkali dirusak sehingga ekosistem yang ada didalamnya turut hancur. Perbaikan hubungan ini yang menjadi catatan penting agar alam tetap bisa menyediakan bahan bagi kehidupan manusia.
Sebagai realisasi dari perbaikan hubungan tersebut ada baiknya kita mengaca pada berbagai perkembangan di negara-negara maju. Di negara tersebut, bahan alternative pengganti minyak sudah lama dicarikan solusinya. Negara Jerman sudah mampu menciptakan mobil dengan bahan bakar tenaga surya. Ini adalah cara bila di masa depan minyak benar-benar sulit didapatkan. Selain Jerman negara-negara maju lainnya pasti menciptakan penemuan baru berkaitan hal ini. Ini bisa dilakukan setelah manusia dan alam menjalin interaksi secara baik. Pertanyaannya kemudian bisakah Indonesia melakukan itu?

Tidak ada komentar: